Loading...
Header Image

Perjuangan Nafa Amadea Guru PJOK SMP Islam 1 Batu Meraih Medali Perak Kejuaraan Finswimming Se-Asia

Perjuangan Nafa Amadea Guru PJOK SMP Islam 1 Batu Meraih Medali Perak Kejuaraan Finswimming Se-Asia

Persiapan Dua Pekan, Hanya Kalah dari Vietnam

PAGI itu, 1 November, hawa sejuk Kota Batu menyambut langkah awal Nafa. Seperti rutinitasnya sebagai guru di SMP Islam Kota Batu, ia menyiapkan diri menyongsong hari yang penuh suara tawa dan pertanyaan para murid.

Mengendarai motor kesayangannya, Nafa membelah keramaian lalu lintas yang mulai padat oleh rombongan pelajar yang bergegas menuju sekolah. Jam pelajaran bergulir, namun di sela aktivitas mengajar, sebuah pesan penting mampir ke ponselnya.

Informasi itu datang dari pengurus cabang olahraga (cabor) finswimming, dunia selam yang selama ini juga lekat dengan kehidupan Nafa. Pesan itu menyebut bahwa Nafa terpilih menjadi salah satu atlet yang mewakili Indonesia di ajang Cmas Southeast Asia Championsip Finswimming Indoor 2025, 14-19 November lalu.

Kejuaraan internasional namun lokasinya di Stadion Akuatik Gelora Bung Karno, Jakarta. Untuk kali pertama Indonesia dinobatkan menjadi tuan rumah.

Cmas Southeast Asia 2025 diikuti peserta dari lima negara. Selain Indonesia, ada Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Kamboja. Nafa turun di tiga nomor pada ajang tersebut, yaitu 50 meter, estafet 200 meter putri, dan estafet 4x100 mix. Maksud dari mix adalah timnya terdiri dari dua putra dan dua putri.

Di nomor 4x100 mix itu lah Nafa membawa pulang medali perak untuk Indonesia. Bersama tiga teman lainnya dari Jawa Barat. Yakni Azka Muhammaf F, Azqi Athaya Galy, dan Bilqis Priskyla. Meskipun mendapatkan medali perak, alumnus Universitas Negeri Malang (UM) itu merasa performanya kurang maksimal.

Hal ini karena kurangnya persiapan. Dia dihubungi dua pekan menjelang kompetisi berlangsung. Sehingga, periodisasi latihan yang dijadwalkan belum maksimal. Ditambah lagi kesibukannya sebagai tenaga pendidik juga menyita waktu.

Nafa harus membagi antara waktu bekerja dan latihan. Selama dua pekan tersebut, latihan yang dijalani dua kali sehari. "Kalau pagi saya latihan 1,5 jam di kolam, kemudian lanjut mengajar. Sore latihan lagi untuk fisik dan gym," kata dia.

Dengan persiapan terbilang mepet, Nafa tidak berani mematok target tinggi. Dia hanya ingin menyuguhkan kemampuan terbaik untuk negaranya, Indonesia. ”Ternyata malah mendapatkan medali perak di nomor estafet mix,” ungkap dia.

Untuk nomor estafet mix, tidak ada persiapan khusus. Meskipun tim beranggota empat orang, tidak memerlukan sesi khusus untuk menemukan chemisty. Setiap orang hanya perlu menampilkan performa maksimal untuk membantu teman selanjutnya.

Strategi dari pelatih tim Indonesia adalah menempatkan atlet perempuan di awal dan akhir. Sedangkan untuk atlet pria berada di urutan kedua dan ketiga. Nafa menjadi pembuka jalan atau sebagai anggota tim yang melakukan start.

Targetnya, tim Indonesia tidak tertinggal terlalu jauh dengan peserta lain. Sehingga memudahkan anggota di urutan kedua sampai keempat. Pada gilirannya, Nafa masih bisa menjaga tempo hingga akhirnya finish di urutan kedua, tepat di belakang tim Vietnam.

Pada ajang kali ini, Vietnam menyabet juara umum dengan perolehan 31 medali emas, 22 perak dan 6 perunggu. Di posisi kedua tim Indonesia dengan 5 emas, 22 perak dan 27 perunggu. Di posisi ketiga ada Kamboja dengan 1 emas, 3 perak, dan 6 perunggu.

Sementara di dua nomor lainnya, hasil Nafa tidak begitu buruk. Pada nomor 50 meter, dia menduduki peringkat empat. Satu tangga lagi sudah mendapatkan medali perunggu. Sedangkan di estafet 200 meter merosot di posisi enam.

"Kalau ada waktu untuk persiapan lebih lama, mungkin saya bisa menampilkan lebih baik lagi," sesal peraih medali perak pada PON 2024 lalu itu. Secara umum pada saat kejuaraan, tidak ada kendala berarti yang dialami Nafa. Maklum ini sudah kejuaraan internasional yang ketiga baginya.

Melihat lawan dari negara asing tak membuat nyali wanita asli Kota Batu itu ciut. Sebelumnya, dia pernah berkompetisi dengan peserta dari Eropa hingga Asia. Satu-satunya kendala yang dihadapi Nafa adalah cuaca di Jakarta.

Saat itu, cuaca sangat cepat berubah. Dari yang sebelumnya panas, tiba-tiba diguyur hujan disertai angin. Kondisi itu membuat tubuhnya harus beradaptasi. Begitu kejuaraan selesai, Nafa langsung tumbang.

Dengan sederet prestasi, baik nasional hingga internasional, Nafa berharap memacu semangat atlet lain di Kota Batu. Dia bersama KONI Kota Batu akan terus menggembleng bibit muda untuk menjadi penggantinya sebagai atlet nasional. "Saya selalu mengingatkan kepada penerus saya bahwa tidak ada juara yang instan, harus melalui proses yang panjang. Ketika berhasil, tidak boleh melupakan siapa yang berjasa,” kata alumnus Fakultas Ilmu Keolahragaan UM itu.